Kamis, 23 Juli 2015

TESTIMONI SAKSI INSIDEN TOLIKARA

saksi. I. Kejadian pada tanggal 17 Juli 2015 itu, sebelum melakukan kegiatan kongres GIDI panitia melayangkan surat berupa himbauan kepada semua pihak baik itu pihak kepolisian,Brimob, TNI dalam hal ini Koramil Karubaga, pemerintah Daerah, Ketua DPRD Tolikara dan organisasi agama termasuk umat muslim yang ada di tolikara bahwa semua aktifitas tidak dilaksanakan selama proses kongres Pemuda GIDI dilaksanakan, dan untuk umat Muslim dapat melakukan ibadah Idul Fitri di dalam Mushola dan tidak menggunakan Toa karena mengganggu dalam proses kongres Pemuda GIDI yang jaraknya sangat dekat kira-kira 250 meter.  Surat tersebut dikeluarkan pada tanggal 11 Juli 2015. Namun umat muslim tidak mengindahkan Surat Himbauan tersebut dan sekitar jam 06:00 umat muslim melaksanakan ibadah Idul Fitri dihalaman Koramil dan memasang toa. Maka pemuda GIDI dan beberapa hamba Tuhan mendatangi halaman koramil Karubaga untuk mempertanyakan surat himbauan yang Panitia layangkan yang isinya termasuk tidak melakukan Ibadah Indul Fitri di luar ruangan Mushola, waktu itu kami pergi bukan mau menyerang umat muslim yang beribadah namun kami pergi untuk kordinasi dengan umat muslim tetapi anggota Militer yang sedang beribadah langsung mengeluarkan pistol dari sarung yang dipakai dan menembak 1 kali keatas dan tembakan berikutnya langsung ditujukan kepada kami dan anggota militer yang lain mulai angkat senjata dari tikar dan menembak kami secara membabibuta sehingga kami  mundur dan waktu itu beberapa hambaTuhan dan bapak Wakil Bupati datang dan menyuruh kami kearah depan Bank Papua dan semua berkumpul disitu. Setelah itu kami lihat kebelakang teman kami yang ikut saat itu tertembak dibelakang kami, maka kami semua tidak terima kejadian itu sehingga  kami semua menuju jalan besar ujung jalan Irian dan membakar kios dan kios-kios yang ada semua dibangun pakai kayu jadi kami bakar. Kami tidak berencana sama sekali untuk membakar mushola namun mushola tersebut berada di bagian dalam dan di bagian luar itu dikelilingi kios-kios maka waktu kami bakar kios berimbas ke mushola dan ikut terbakar.  Jadi berita dari media cetak maupun berita on line lainnya memberitakan bahwa sekelompok orang masuk ke mushola dan membakar mushola itu berita yang sangat tidak benar.Sebenarnya kami waktu itu pergi itu untuk berdialog namun TNI/POLRI memang sebelumnya sudah siapkan senjata di samping-samping mereka jadi terjadi seperti itu. Dan kami sebenarnya tidak bisa melakukan tapi karena TNI/POLRI lebih dulu melakukan penembakan terhadap teman kami jadi lakukan pembakaran kios bukan kami bakar Mushola. Dan kios-kios itu bukan hanya milik masyarakat pendatang tapi kios-kios yang lain itu ada masyarakat tolikara punya juga yang ikut terbakar, kami orang papua punya kios itu ada 11 (sebelas) kios yang terbakar dan juga kios-kios itu bukan hanya milik umat muslim saja tapi itu ada juga orang pendatang yang Kristen punya kios juga ikut terbakar. Dan kejadian tersebut terjadi sekitar 2 (dua) jam saja setelah itu aktivitas masyarakat seperti biasa. Waktu Kapolri, Kapolda dan Pangdam datang keTolikara hanya bicara soal pembakaran kios-kios dan mushola namun mereka tidak bicarakan soal pemuda yang ditembak mati EdiWanimbo (15) SMU kelas II. Dan yang luka-luka. Kami sekarang sedang piker nyawa manusia ini tidak ada harga sama sekali dari pada kios dan mushola. Kami sangat kecewa sekali dengan tindakan mereka.

Saksi II: Kami kelompok pemuda dan masyarakat yang datang dari arah jalan irian atas itu bertujuan untuk pergi ikut kegiatan Kongres Pemuda namun dalam perjalanan dengar tembakan akhirnya kami terus kearah jalan Bank Papua dan bertemu dengan rombongan yang ada di depan Bank Papua dan mereka kasih tahu bahwa kami sudah dapat tembak dari militer maka secara spontan kami balik kanan dan membakar kios, kebetulan didepan kios itu ada jual bensin jadi kami bakar dan yang lain menuju arah belakang koramil dan melempar batu akhirnya masyarakat yang  lain itu kena tembakan dari militer dan kebanyakan kena di kaki dan tangan. Jadi Kami tidak bermaksud untuk membakar Mushola yang ada di belakang kios-kios itu.

Saksi III: Padatanggal 11 Juli 2015 panitia Kongres Pemuda mengedarkan surat himbauan tersebut kepolisian Resort Tolikara tidak menanggapi surat tersebut namun pada hari yang ke 4 (empat) kapolres memberitahukan kepada pihak panitia Kongres Pemuda GIDI bahwa belum ada surat pemberitahuan yang masuk kepihak kepolisian. Dan pada waktu sebelum hari raya Idul Fitri umat muslim mengahadap kapolres untuk mempertanyakan atas surat himbauan dari Panitia kongres namun tidak jelas penjelasan kapolres terhadap umat muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar